Desa Wisata Samiran: Harmoni Alam, Tradisi, dan Kemandirian di Lereng Merapi–Merbabu
Published 1 week ago
Desa Wisata Samiran (DEWI SAMBI) di Boyolali hadir sebagai potret desa wisata yang hidup dan berdaya. Terletak di ketinggian sekitar 1.600 mdpl, desa ini dianugerahi panorama megah Gunung Merapi dan Merbabu yang menjadi latar keseharian warganya. Namun, keistimewaan DEWI SAMBI tidak berhenti pada keindahan alam, melainkan pada bagaimana masyarakatnya membangun kemandirian dan mengelola potensi lokal secara berkelanjutan.
Salah satu kekuatan utama DEWI SAMBI adalah peran aktif masyarakat sebagai penggerak utama desa wisata. Warga tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku langsung dalam roda ekonomi desa. Mulai dari pengelolaan homestay, jasa pemandu wisata, hingga pengolahan hasil pertanian seperti tembakau dan sayuran, semuanya dijalankan oleh masyarakat setempat. Model ini menciptakan rasa memiliki yang kuat sekaligus memastikan manfaat ekonomi dirasakan secara merata.
Pertanian di Desa Samiran juga memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar aktivitas ekonomi. Melalui ritual Temu Tirta, masyarakat menyatukan mata air dari Merapi dan Merbabu sebagai simbol rasa syukur kepada alam. Tradisi ini menegaskan bahwa bertani adalah bentuk pengabdian dan penghormatan terhadap lingkungan, sekaligus cara menjaga keseimbangan antara manusia dan alam yang telah menopang kehidupan mereka turun-temurun.
Selain itu, DEWI SAMBI menunjukkan bagaimana kedaulatan pangan dapat berjalan selaras dengan pelestarian tradisi. Pemanfaatan potensi lokal dilakukan dengan prinsip keberlanjutan, sehingga kebutuhan pangan desa dapat dipenuhi tanpa merusak ekosistem. Dukungan dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDT) semakin memperkuat upaya ini, membuktikan bahwa menjaga tradisi justru menjadi fondasi penting dalam membangun ekonomi desa yang tangguh.
DEWI SAMBI menjadi bukti nyata bahwa harmoni antara alam, budaya, dan partisipasi aktif warga mampu melahirkan destinasi wisata yang berkelanjutan. Desa ini tidak hanya menawarkan pengalaman visual yang memukau, tetapi juga pelajaran berharga tentang kemandirian, kebersamaan, dan cara membangun masa depan desa tanpa meninggalkan akar budaya yang telah menghidupinya.
Artikel Terbaru
Puasa Jalan, Gizi Tetap Aman: Program MBG Tetap Hadir Selama Ramadan
Published 3 days ago
ampung Nelayan Merah Putih, Gelombang Baru Kebangkitan Ekonomi Pesisir
Published 3 days ago
Bergerak Nyata untuk Negeri: Cahaya Agro Teknik Dukung Program Mahasiswa Berdampak
Published 3 days ago
Steamer Gas 24 Tray – Andalan Dapur Produksi Besar untuk Menu Sehat & Bergizi
Published 3 days ago
Cahaya Agro: Mitra Strategis Pengembangan Desa Wisata Produktif & Mandiri
Published 3 days ago
Judul: Kredit Program Perumahan (KPP): Solusi Cerdas Wujudkan Hunian Produktif untuk CA Preneurs
Published 1 week ago
Desa Wisata Samiran: Harmoni Alam, Tradisi, dan Kemandirian di Lereng Merapi–Merbabu
Published 1 week ago
Cahaya Agro Teknik Buka Kolaborasi Strategis dengan Universitas di Seluruh Indonesia
Published 2 weeks ago
Cahaya Agro Teknik Buka Kolaborasi Strategis dengan Universitas di Seluruh Indonesia
Published 2 weeks ago